www.tempoaktual.id – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, mengemukakan sebuah inisiatif ambisius yaitu pembentukan “Golden Triangle” yang menyatukan tiga provinsi, yaitu Bali, NTB, dan NTT. Ini bertujuan untuk menciptakan sebuah kawasan regional yang lebih terintegrasi dan strategis di Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Iqbal menilai bahwa Universitas Mataram (Unram) harus berada di garis terdepan untuk merumuskan strategi pelaksanaan konsep ini. Keterlibatan Unram sangat penting dalam mewujudkan paradigma baru yang diharapkan dapat memperkuat posisi ketiga provinsi tersebut dalam peta nasional.
Gubernur menjelaskan pentingnya kolaborasi antara ketiga provinsi untuk membangun masa depan yang lebih baik. “Kami baru saja berdiskusi dengan Gubernur Bali dan NTT, dan kita sepakat untuk berfokus pada integrasi yang lebih dalam antara ketiga daerah ini,” ujarnya.
Gagasan Strategis untuk Integrasi Tiga Provinsi
Dalam pembicaraannya, Gubernur Iqbal mengusulkan tiga aspek utama yang perlu diintegrasikan untuk suksesnya “Golden Triangle”. Pertama adalah integrasi energi antara ketiga provinsi, dimana NTB dan NTT akan berperan penting dalam penyediaan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk Bali.
Ia menjelaskan bahwa Bali, dengan tingginya kebutuhan energi, tidak perlu menghasilkan EBT, melainkan cukup bergantung pada pasokan dari NTB dan NTT yang memiliki potensi radiasi matahari yang kuat. Dengan cara ini, efisiensi energi bisa dicapai, dan lingkungan hidup tetap terjaga.
Selanjutnya, Gubernur menekankan perlunya integrasi konektivitas transportasi antara ketiga provinsi. “Kita perlu memastikan bahwa infrastruktur transportasi yang menghubungkan Bali, NTB, dan NTT berjalan dengan lancar,” tambahnya.
Mendorong Kerja Sama di Sektor Pariwisata
Kemudian, ia menyentuh pentingnya kolaborasi di sektor pariwisata. “Ketiga provinsi memiliki keindahan alam dan budaya yang luar biasa, sehingga bisa saling melengkapi dalam menarik wisatawan,” ujarnya optimis.
Dalam konteks ini, Gubernur menghimbau agar masing-masing provinsi mempromosikan potensi wisatanya secara bersamaan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Gubernur juga menyoroti komitmen ketiga provinsi dalam mendorong Rancangan Undang-Undang Provinsi Kepulauan. Saat ini, pendekatan pemerintahan yang masih berlandaskan negara daratan harus segera diubah menjadi lebih maritime.
Peran Universitas dalam Membentuk Paradigma Baru
Gubernur menantang Universitas Mataram untuk menjadi ujung tombak dalam transformasi ini. “Saya berharap Unram dapat berfungsi sebagai Center of Excellence yang dapat memberikan solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia ingin agar hasil riset dan pelaksanaan inovasi dari Unram dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat luas. “Hasil penelitian harus dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar memberikan dampak positif,” imbuhnya.
Dalam konteks menangani isu kemiskinan, Gubernur mengingatkan bahwa provinsi NTB saat ini masih terperangkap dalam daftar 12 provinsi termiskin di Indonesia. “Kami harus berpikir secara multidimensi untuk mengatasi kemiskinan struktural yang ada,” katanya tegas.
Melalui sambutannya yang penuh semangat, Gubernur NTB menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan akademisi. “Saya sangat mengapresiasi kontribusi Unram dalam pembangunan daerah. Keterlibatan ilmuwan dalam setiap tahap perencanaan sangatlah penting,” ujarnya.
Semoga dengan adanya kolaborasi ini, kita dapat menciptakan sebuah model pemerintahan kepulauan yang lebih baik. Dengan cara ini, kita dapat memanfaatkan kekuatan sumber daya alam dan manusia yang dimiliki oleh masing-masing provinsi.
Dengan harapan yang tinggi, Gubernur Iqbal mengajak semua pihak untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita besar ini. “Mari kita bangun paradigma baru untuk Nusa Tenggara,” tutupnya dengan penuh optimisme.






















