www.tempoaktual.id – Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., M.M., bersama timnya menghadiri acara peluncuran Berita Resmi Statistik (BRS) yang diadakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB. Kegiatan berlangsung di kantor BPS NTB dan dihadiri oleh perwakilan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), lembaga vertikal, serta lembaga terkait lainnya.
Dalam acara tersebut, dibahas beberapa topik penting terkait pertumbuhan ekonomi, seperti data untuk Triwulan III Tahun 2025. Najamuddin mencatat bahwa perekonomian NTB mengalami pertumbuhan sebesar 3,91 persen year-on-year (yoy), didorong oleh peningkatan dalam sektor agraris dan wisata.
Produksi padi GKG, misalnya, meningkat hingga 37,15 persen dibandingkan tahun lalu. Hal ini dibarengi dengan meningkatnya mobilitas dan aktivitas wisata, yang berkontribusi terhadap perkembangan sektor transportasi dan akomodasi, dengan jumlah penumpang yang meningkat mencapai 375 ribu orang.
Peningkatan yang signifikan terlihat pada sektor akomodasi, dengan tamu yang menginap di hotel meningkat 28,16 persen, mencerminkan perbaikan dalam kondisi ekonomi. Selain itu, realisasi belanja pegawai pemerintah daerah juga tumbuh menjadi Rp2,5 triliun dari sebelumnya Rp2,2 triliun.
Data ekspor luar negeri menunjukkan nilai sebesar 395,96 juta dolar Amerika, meskipun mengalami penurunan karena tidak adanya ekspor tambang sejak awal tahun ini. Namun, ada harapan positif dengan relaksasi ekspor bahan mentah yang dijadwalkan mulai awal Oktober 2025, yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja ekspor di Triwulan IV.
Analisis Pertumbuhan Ekonomi NTB di Triwulan III Tahun 2025
Najamuddin menjelaskan bahwa meskipun sektor tambang tertekan, perekonomian NTB menunjukkan tanda-tanda positif. Pertumbuhan tanpa sektor tambang tercatat mencapai 4,36 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional yang hanya sebesar 5,04 persen.
Selama tiga tahun terakhir, tren pertumbuhan ekonomi NTB di luar sektor tambang menunjukkan peningkatan yang konsisten. Meskipun ada sedikit perlambatan, pertumbuhan kumulatif masih menunjukkan angka positif, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 0,22 persen di Q3 2025.
Hal ini sejalan dengan proyeksi bahwa di Triwulan IV, pertumbuhan ekonomi NTB akan terus membaik, terutama dengan adanya kegiatan ekspor dari olahan tambang dan smelter. Data menunjukkan bahwa sektor pertanian dan industri adalah pendorong utama pertumbuhan.
Dalam rincian sektor berdasarkan Lapangan Usaha, pertanian dan perdagangan menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap PDRB. Sektor pertanian mendominasi dengan pertumbuhan 3,54 persen, sedangkan sektor perdagangan tumbuh sebesar 4,24 persen.
Komponen Utama dalam Pertumbuhan Ekonomi NTB
Sektor konstruksi juga menunjukkan angka yang menggembirakan dengan pertumbuhan 5,59 persen. Ini menunjukkan bahwa investasi di infrastruktur menjadi salah satu pendorong investasi baik dari pemerintah maupun swasta.
Industri pengolahan, yang mencapai pertumbuhan tertinggi, terutama didorong oleh industri logam dasar, mencerminkan peningkatan produksi dan nilai tambah dari bahan mentah. Kenaikan kunjungan wisatawan berkontribusi pada pertumbuhan sektor akomodasi dan makanan minuman.
Pertumbuhan sektor keuangan juga terpantau baik, berkat peningkatan aktivitas perbankan dan transaksi keuangan. Sektor konstruksi menjadi andalan menjelang akhir tahun dengan peningkatan belanja infrastruktur pemerintah dan swasta.
Dengan komponen yang beragam dan sinergi antara sektor-sektor ini, pertumbuhan ekonomi NTB diperkirakan akan berlanjut dengan positif di masa mendatang. Kemampuan untuk memanfaatkan potensi sektor-sektor ini sangat krusial bagi kemajuan ekonomi daerah.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan untuk NTB
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal ekspor dan pemulihan sektor tambang yang belum sepenuhnya pulih. Ke depannya, diperlukan strategi yang lebih baik dalam memanfaatkan sumber daya dan meningkatkan produktivitas.
Peningkatan daya beli masyarakat dan kegiatan ekonomi yang dinamis menjadi faktor penting dalam mempertahankan pertumbuhan. Data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga menjadi komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi, dan peningkatan belanja pemerintah memperkuat stabilitas ekonomi.
Proyeksi untuk sektor ekonomi juga mempertimbangkan peningkatan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang tumbuh 5,29 persen. Adanya peningkatan ini akan memfasilitasi pengembangan infrastruktur dan penambahan kapasitas industri.
Dengan berbagai upaya dan kerjasama antara pemerintah dan sektor swasta, NTB dapat memanfaatkan peluang yang ada untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Sinergi antara sektor-sektor ekonomi sangat penting untuk menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.






















