www.tempoaktual.id – Keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penerimaan pajak di Lombok Tengah. Buktinya, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Praya melaporkan pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun banyak KPP lain di Nusa Tenggara mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di kawasan Mandalika semakin menggeliat.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Nusa Tenggara, Samon Jaya, menambahkan bahwa pertumbuhan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh transaksi yang meningkat dalam sektor properti. Hotel-hotel di kawasan tersebut juga menunjukkan tingkat hunian yang luar biasa, memberikan dampak langsung pada pajak yang diterima.
“Dampak KEK Mandalika sangat terlihat, terutama dalam hal transaksi properti dan pariwisata. Kami mencatat bahwa perekonomian di Mandalika sangat berpotensi untuk tumbuh lebih jauh, seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung dan investasi di daerah ini,” tuturnya.
Dampak Positif Kawasan Ekonomi Khusus Terhadap Ekonomi Lokal
Mandalika kini berada di jalur yang sama dengan destinasi wisata lainnya di NTB, seperti Gili Trawangan dan Gili Meno. Transaksi yang terjadi di kawasan tersebut tidak bisa dianggap remeh, mencapai nilai triliunan rupiah setiap tahunnya, menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.
Samon melaporkan bahwa nilai transaksi di Mandalika hampir setara dengan ketiga gili tersebut. “Media sering memberitakan bahwa transaksi di Gili Trawangan dan sekitarnya bisa mencapai sekitar Rp7 triliun per tahun, dan Mandalika sudah mengarah ke sana,” tambahnya.
Begitu memukau perkembangan ini, KPP Praya bahkan telah mendekati 94 persen dari target penerimaan pajak tahun ini. Di tengah banyaknya KPP lainnya yang mengalami kontraksi, KPP Praya justru menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan.
Transaksi Properti dan Pariwisata yang Meningkat Pesat
Penerimaan pajak yang diperoleh dari Mandalika datang dari beragam sektor, khususnya dari perhotelan dan investasi properti. Tingginya jumlah wisatawan yang datang telah mendorong okupansi hotel untuk meningkat, sementara transaksi jual beli villa dengan harga tinggi juga memperkuat pendapatan pajak.
“Jelas bahwa sektor perhotelan sangat berhubungan dengan jumlah kunjungan wisatawan. Transaksi di sektor properti juga menunjukkan tren yang positif, dengan beberapa villa yang diperdagangkan mencapai miliaran rupiah,” ungkap Samon.
Selain itu, meski ada pertumbuhan mendasar dalam angka penerimaan, pihaknya tetap berkomitmen untuk mendorong kepatuhan wajib pajak. Hal ini termasuk pendaftaran dan pelaporan pajak yang harus dipatuhi oleh semua pelaku usaha.
Mendorong Kepatuhan Pajak dan Kepercayaan Investor
Samon mencatat bahwa selain menghitung jumlah penerimaan, penting juga untuk fokus pada kepatuhan formal para wajib pajak. “Kami perlu mengukur dengan jelas bagaimana banyak yang telah terdaftar dan apakah mereka telah melaporkan pajak sesuai dengan ketentuan,” tegasnya.
Dalam hal ini, peran media juga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan para investor serta pelaku usaha di NTB, khususnya di kawasan Mandalika. Samon berharap agar kabar positif ini dapat terus disebarluaskan dan mendorong investasi lebih lanjut.
“Sampaikan informasi positif kepada masyarakat. Jika ada kekurangan, mari arahkan ke solusi. Investasi di Mandalika saat ini sangat dinamis dan telah membawa dampak nyata bagi perekonomian lokal,” pungkasnya.






















