www.tempoaktual.id – Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 telah menarik perhatian ribuan wisatawan untuk mengunjungi Desa Wisata Adat Sade yang terletak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Selama periode liburan ini, kunjungan meningkat drastis, mencapai seribu orang per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa yang hanya berkisar 200 orang.
Lonjakan jumlah wisatawan ini membawa dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi masyarakat setempat. Di tengah ramainya pengunjung, warga setempat yang menawarkan jasa penyewaan baju adat tenun khas Sasak mengalami peningkatan pendapatan yang cukup menggembirakan.
Pemandu wisata setempat, Salam, mengungkapkan bahwa fenomena ini sudah terasa sejak awal libur Natal hingga penutupan libur sekolah. Wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari NTB, tetapi juga dari pulau-pulau lain di Indonesia dan luar negeri, termasuk Australia.
Peningkatan Kunjungan Wisatawan di Desa Adat Sade
Kunjungan wisatawan yang melonjak selama musim liburan ini menjadi berkah bagi masyarakat Desa Adat Sade. Di kalangan pemandu wisata, keterangan dari Salam menunjukkan optimisme tinggi terkait potensi pariwisata daerah tersebut.
“Jika pada hari biasa jumlah kunjungan hanya 200 orang, saat libur Nataru kami bisa menerima hampir seribu wisatawan per hari,” kata Salam. Hal ini menunjukkan betapa menariknya keunikan budaya dan pesona alam Desa Sade bagi para pengunjung.
Wisatawan yang datang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari lokal hingga internasional. Melihat antusiasme pengunjung ini, warga setempat berusaha memaksimalkan potensi layanan dan produk yang mereka tawarkan.
Peran Usaha Sewa Pakaian Adat dalam Meningkatkan Ekonomi Lokal
Di tengah lonjakan kunjungan, warga desa seperti Oni merasakan dampak positif dari peningkatan permintaan akan pakaian adat. Oni, yang menyewakan busana tradisional lengkap dengan aksesori kepala, mengakui bahwa omsetnya meningkat signifikan saat liburan.
“Pada hari biasa, mungkin saya hanya menyewakan dua hingga tiga pasang baju. Tapi saat libur Nataru, bisa mencapai tujuh sampai sepuluh pasang per hari,” ungkap Oni dengan senyum lebar. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan memang ingin mengabadikan momen dengan mengenakan busana tradisional.
Harga sewa yang ditawarkan pun cukup terjangkau, yaitu Rp25 ribu untuk satu set pakaian lengkap, dan dapat digunakan tanpa batas waktu selama berada di kawasan Desa Sade. Selain sewa pakaian, penjualan kain tenun dan sarung khas Lombok juga menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan.
Dampak Positif terhadap Perekonomian Lokal
Dengan banyaknya wisatawan yang datang, Desa Adat Sade mampu memperkuat perekonomian masyarakat lokal. Ini terlihat dari peningkatan transaksi di berbagai sektor, seperti penyewaan pakaian, penjualan kain tenun, dan layanan wisata lainnya.
“Dari hari biasa yang hanya dapat sekitar 75 sampai 100 ribu rupiah, saat Nataru kami bisa meraih pendapatan hingga 300 ribu sehari,” kata Oni. Peningkatan tersebut sangat berarti bagi mereka yang bergantung pada sektor pariwisata.
Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh Oni, namun juga oleh seluruh komunitas yang berkecimpung dalam industri pariwisata lokal. Kegiatan pariwisata ini menjadi penopang utama bagi perekonomian yang berbasis pada kearifan lokal.
Peningkatan kunjungan selama Nataru membuktikan bahwa Desa Adat Sade masih menjadi primadona pariwisata di NTB. Keberhasilan ini diharapkan dapat terus berlanjut, sehingga masyarakat dapat secara berkelanjutan memanfaatkan potensi budaya yang ada.
Semangat masyarakat Desa Sade dalam menyambut wisatawan dengan layanan terbaik menunjukkan bahwa mereka siap untuk beradaptasi dan berkembang. Melalui promosi wisata yang kuat dan keterlibatan komunitas, Desa Adat Sade memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi wisata yang lebih dikenal dan dicintai oleh banyak orang.






















