www.tempoaktual.id – Hari Selasa, 13 Januari 2026, menjadi momen penting bagi pengembangan peran perempuan di Indonesia, khususnya dalam sektor pengelolaan hutan. Kepala Bappeda Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, meresmikan Lokakarya Inisiasi Pembentukan Forum Perempuan Penjaga dan Pengelola Hutan Indonesia (FP3HI) di Hotel Aston Inn, acara yang diprakarsai oleh Mitra Pembangunan KONSEPSI.
Acara ini tidak hanya bertujuan untuk memberdayakan perempuan, tetapi juga bertindak sebagai titik awal dalam mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan hutan berkelanjutan memerlukan kolaborasi yang erat antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Baiq Nelly Yuniarti menekankan pentingnya peran kolaboratif dalam pengelolaan sumber daya hutan. Menurutnya, tanpa sinergi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan, upaya menjaga kelestarian hutan akan menjadi sangat sulit.
Perempuan dalam Konteks Pembangunan Berkelanjutan Hutan
Pengelolaan hutan yang berkelanjutan membutuhkan kontribusi aktif dari perempuan, yang sering kali menjadi ujung tombak dalam komunitas lokal. Dengan menciptakan Forum FP3HI, diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara perempuan dan akses terhadap sumber daya hutan.
Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk berdiskusi dan berkoordinasi antar desa dan sektor yang terkait. Pembentukan forum ini bukan hanya sekadar hitungan angka, tetapi juga sebuah langkah nyata untuk memetakan potensi hutan yang ada.
Melalui penggunaan data yang akurat dan penyampaian informasi yang jelas, FP3HI berpotensi dapat memberikan solusi inovatif bagi masalah yang dihadapi perempuan di kawasan hutan, termasuk dalam konteks kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Ini adalah langkah awal yang penting untuk mendorong keadilan gender dalam pengelolaan sumber daya alam.
Peran Strategis Perempuan dalam Pengelolaan Hutan
Dr. Muhammad Taqiuddin, Direktur KONSEPSI, menyoroti betapa pentingnya keberadaan perempuan dalam pengelolaan sumber daya hutan secara berkelanjutan. Ia mencatat bahwa perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga yang seringkali diabaikan dalam keputusan manajemen hutan.
Selanjutnya, Taqiuddin menjelaskan bahwa FP3HI akan berfungsi sebagai platform untuk memperkuat jejaring di antara perempuan dalam perhutanan sosial. Dengan jejaring ini, perempuan diharapkan bisa lebih terlibat dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.
Dengan mengedepankan partisipasi perempuan, diharapkan akan terjadi peningkatan kapabilitas dan keahlian yang dapat membantu memperkuat posisi mereka dalam ekonomi lokal. Ini adalah bagian dari upaya luas untuk menciptakan inklusivitas dan keadilan dalam pengelolaan hutan.
Langkah Strategis Menuju Kesejahteraan Bersama
Pemerintah Provinsi NTB berkomitmen untuk memastikan bahwa program NTB Lestari dan Berkelanjutan memberi ruang lebih bagi perempuan dalam pengelolaan hutan. Ini adalah pendukung penting bagi misi pengentasan kemiskinan di daerah yang sangat bergantung pada sumber daya hutan.
Dengan mengoptimalkan sumber daya alam, diharapkan nilai ekonomi masyarakat sekitar hutan dapat meningkat. Yang lebih penting, langkah ini juga bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan sehingga generasi mendatang dapat menikmati manfaat dari hutan yang sehat.
Optimisme berkembang seiring dengan terbangunnya sinergi antarpemangku kepentingan dalam pengelolaan sumber daya hutan. Dalam konteks ini, perempuan sebagai garda terdepan diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat dan kelestarian ekosistem.





















