www.tempoaktual.id – Banjir yang melanda Kota Mataram pada mulai Minggu, 6 Juli 2025, menghadirkan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Kerusakan infrastruktur, rumah, serta kendaraan mengakibatkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp55 miliar, menurut data terbaru yang dirilis oleh pihak berwenang.
Akibat dari bencana ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat bahwa sebanyak 7.767 kepala keluarga (KK) terdampak. Estimasi kerugian sebesar Rp7 juta per KK menunjukkan total nilai kerugian material yang signifikan untuk sebuah kota sekelas Mataram.
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ahmadi, menjelaskan bahwa meskipun tidak semua infrastruktur mengalami kerusakan parah, pemantauan dan penanganan insfrastruktur yang ada tetap menjadi perhatian. Dia menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi agar bencana serupa tidak terulang kembali.
Di hari kedua pasca-banjir, jumlah korban yang terdampak meningkat menjadi 31.947 jiwa, dengan satu orang dilaporkan meninggal dunia. Menurut informasi resmi, sebanyak 15 orang mengalami luka-luka, di samping 580 warga yang terpaksa mengungsi akibat dampak bencana ini.
Proses evakuasi dilakukan secara bertahap, di mana sebanyak 26 kendaraan telah berhasil dievakuasi termasuk berbagai model mobil dan sepeda motor. Sementara itu, sembilan unit rumah dinyatakan rusak berat, dan enam fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan yang cukup signifikan.
Pemerintah provinsi setempat saat ini telah menetapkan status darurat bencana. Hal ini diharapkan dapat mempercepat penanganan dan pemulihan di daerah yang terdampak secara langsung.
Kerugian dan Dampak Banjir di Mataram
Kerugian dari bencana ini mengedepankan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam yang semakin sering terjadi. Kerusakan yang dialami bukan hanya mencakup infrastruktur, tetapi juga keselamatan jiwa yang menjadi prioritas utama.
Pihak BPBD mencatat bahwa kerusakan fasilitas umum, meskipun tidak begitu banyak, menetap pada perhatian mereka. Salah satu tantangan adalah mengatasi sisa-sisa banjir yang masih ada, sehingga perlu langkah pemulihan yang serentak dan terencana.
Ahmadi menegaskan perlunya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani bencana ini. Pengajuan anggaran senilai Rp300 juta kepada pemerintah pusat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di lapangan.
Strategi Pemulihan Pasca Banjir untuk Komunitas
Dalam menghadapi situasi sulit ini, strategi pemulihan harus menyeluruh. Bantuan yang diperlukan tidak hanya berupa dana, tetapi juga pendampingan psikososial bagi warga yang terdampak. Proses ini harus dijalankan secara berkelanjutan untuk membangun kembali kepercayaan dan semangat masyarakat.
Bantuan segera seperti makanan siap saji, pakaian, dan kebutuhan kebersihan menjadi prioritas utama. Selain itu, pengadaan sarana prasarana untuk membersihkan daerah yang terimbas banjir juga perlu dilakukan dengan segera.
Keberadaan fasilitas kesehatan yang baik sangat penting di tengah bencana seperti ini, sehingga respons cepat terhadap kebutuhan mendesak dapat diatur. Pemulihan berjalan seiring dengan penguatan infrastruktur yang rentan terhadap bencana di masa yang akan datang.
Pentingnya Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana
Pengalaman dari bencana ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pembelajaran dari peristiwa ini menjadi momentum untuk memperkuat sistem mitigasi di kawasan rentan bencana. Rencana aksi jangka panjang perlu segera dirumuskan untuk membantu masyarakat lebih siap di masa mendatang.
Sinergi antar lembaga, baik dari tingkat pusat maupun daerah, menjadi sangat penting saat berhadapan dengan bencana. Hal ini mencakup pendataan yang akurat tentang kerugian dan dampak, serta penyusunan rencana penanganan yang partisipatif.
Bebannya tidak hanya dipikul oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat, yang harus aktif berpartisipasi dalam upaya mitigasi bencana. Pendidikan tentang kebencanaan sebaiknya menjadi bagian dari kurikulum di sekolah, untuk membekali generasi masa depan dengan pengetahuan yang diperlukan.






















