www.tempoaktual.id – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2025 digelar oleh Balai Bahasa NTB, berlangsung dari Sabtu (25/10) hingga Senin (27/10). Acara ini merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang memberikan perhatian lebih kepada pelestarian bahasa-bahasa lokal di Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan ini memiliki tujuan yang jelas, yaitu melestarikan dan mempromosikan bahasa daerah kepada generasi muda. Dengan berbagai lomba dan kompetisi, diharapkan dapat memicu minat dan kecintaan masyarakat terhadap bahasa dan sastra lokal.
Kepala Balai Bahasa NTB, Dwi Pratiwi, menyebutkan bahwa FTBI menjadi puncak dari rangkaian kegiatan revitalisasi yang telah dimulai sejak 2022. Program ini mencakup berbagai langkah strategis, mulai dari koordinasi dengan pemangku kepentingan hingga pelaksanaan berbagai lomba yang melibatkan banyak siswa dari tingkat SD dan SMP.
Pada kesempatan ini, Dwi juga menekankan pentingnya peraturan untuk menjaga dan melindungi bahasa daerah. Tiga kabupaten, yaitu Lombok Utara, Sumbawa Barat, dan Dompu, masih memerlukan penguatan regulasi untuk mendukung pelestarian bahasa dan sastra daerah yang ada.
Pentingnya Festival Tunas Bahasa Ibu bagi Generasi Muda
Festival Tunas Bahasa Ibu memiliki peranan penting dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa daerah di kalangan generasi muda. Melalui berbagai lomba yang diadakan, siswa dapat menunjukkan kreativitas dan keterampilan bahasa mereka. Ini menjadi wadah bagi mereka untuk mengekspresikan diri dalam konteks budaya lokal.
Selain itu, lomba-lomba yang diselenggarakan meliputi mendongeng, pidato, dan baca puisi, menyediakan platform bagi peserta untuk mengenal lebih jauh tentang kekayaan budaya mereka. Dengan cara ini, mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar dan saling berbagi pengalaman.
Pihak penyelenggara juga berharap melalui FTBI, masyarakat akan lebih sadar akan pentingnya melestarikan bahasa dan budaya lokal. Dalam jangka panjang, kesadaran ini diharapkan dapat membentuk generasi yang lebih menghargai warisan budaya mereka.
Kendala dalam Pelaksanaan FTBI dan Solusi yang Ditawarkan
Sebuah tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan FTBI adalah belum adanya regulasi yang kuat di beberapa daerah untuk mendukung pengembangan bahasa daerah. Hal ini tentu menjadi hambatan dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra lokal. Masalah lain yang dihadapi adalah terbatasnya jumlah guru yang memiliki kualifikasi dalam pengajaran bahasa daerah.
Dalam hal ini, Dwi Pratiwi menekankan perlunya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Salah satu harapan yang disampaikan adalah adanya perguruan tinggi yang membuka jurusan khusus untuk bahasa dan sastra daerah, sehingga dapat menghasilkan guru-guru yang kompeten.
Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan bahasa daerah juga perlu difokuskan pada pengembangan materi ajar. Dengan meningkatkan akses dan kualitas bahan ajar, diharapkan pelajaran bahasa daerah dapat lebih menarik dan efektif bagi siswa.
Peran Penting pemerintah Daerah dan Dukungan Anggaran
Peran pemerintah daerah sangat vital dalam mendukung pelestarian bahasa daerah melalui regulasi yang appropriate. Dwi Pratiwi mencatat pentingnya peraturan gubernur sebagai dasar hukum dalam pelaksanaan program-program pelestarian. Dengan adanya regulasi yang jelas, akan ada kepastian dan keberlanjutan dalam program-program tersebut.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat memberikan anggaran yang memadai untuk mendukung kegiatan pelestarian bahasa. Ini mencakup penyediaan buku-buku bahan ajar dan sarana prasarana yang diperlukan untuk pendidikan bahasa daerah.
Dengan dukungan anggaran yang solid, aktivitas-aktivitas seperti festival dan lomba dapat dilakukan secara rutin. Ini akan menjadi langkah nyata dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk penguatan bahasa dan budaya lokal.






















