www.tempoaktual.id – Kabupaten Lombok Utara kini kembali melangkah maju dalam dunia pertanian dengan penemuan dua varietas kakao lokal yang inovatif, hasil kerja keras para petani di daerah tersebut. Temuan ini tidak hanya menunjukkan kemampuan luar biasa dari para petani, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang signifikan di pasar kakao yang semakin berkembang.
Keberhasilan ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan (DKP3) setempat, Tresnahadi. Menurutnya, varietas kakao yang baru ditemukan ini, yaitu Ijo Kajuman dan Beneng Jomot, menjadi tonggak penting dalam pengembangan pertanian di Lombok Utara.
Inovasi dalam pertanian adalah langkah yang sangat diperlukan saat ini, terutama untuk menghadapi tantangan ekonomi global. Dalam konteks ini, kehadiran dua varietas kakao lokal memberikan harapan baru bagi para petani untuk meningkatkan pendapatan serta kualitas produk yang dihasilkannya.
Varietas kakao Ijo Kajuman adalah hasil penemuan seorang petani bernama Pak Jabat. Ia berhasil melakukan persilangan antara kakao jenis lama dengan yang baru, sehingga menghasilkan buah dengan warna hijau yang mencolok dan tetap cerah meski telah matang.
Dari segi ukuran, kakao Ijo Kajuman diketahui memiliki buah yang lebih besar dibandingkan dengan varietas kakao lainnya. Hal ini menjadikannya peluang baru bagi petani di wilayah tersebut untuk meraih keuntungan yang lebih tinggi dari hasil panen mereka.
Proses Pengembangan Varietas Kakao di Lombok Utara
Selanjutnya, proses pengembangan kakao Ijo Kajuman melahirkan varietas kedua yang disebut Beneng Jomot. Varietas ini merupakan hasil dari kawin silang antara Ijo Kajuman dengan varietas jantan Mama Murmas, yang menghasilkan keunikan tersendiri.
Keunggulan dari Beneng Jomot terletak pada penampilannya. Buahnya berwarna merah tua yang sangat mencolok saat matang, bahkan bisa lebih besar daripada kakao Ijo Kajuman. Hal ini membuatnya sangat menarik bagi konsumen yang mencari kualitas tinggi.
Produktivitas dari kakao Beneng Jomot sangat mencengangkan. Dalam satu kilogram biji kakao kering, petani hanya membutuhkan 20 buah dari varietas ini. Angka ini jauh lebih efisien dibandingkan varietas umum yang sering dipakai, yang biasanya memerlukan 30 hingga 35 buah untuk mencapai jumlah yang sama.
Dari sini, jelas bahwa varietas kakao lokal ini memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan varietas lain. Dengan hasil yang lebih banyak serta kualitas yang unggul, para petani diharapkan dapat merasakan keuntungan yang signifikan.
Dampak positif dari penemuan dua varietas kakao ini kini mulai terasa di kalangan kelompok tani di Lombok Utara. Terutama untuk varietas Ijo Kajuman, perkembangan kini berlangsung sangat cepat, hingga bibitnya sudah dipasarkan sampai ke luar daerah.
Peluang Ekonomi Bagi Petani Melalui Kakao Lokal
Petani yang menanam varietas Ijo Kajuman dan Beneng Jomot tentunya akan merasakan hasil panen yang lebih besar dan menguntungkan. Hal ini menjadi motivasi bagi lebih banyak petani untuk beralih ke penanaman kakao lokal ini.
Keberlanjutan inovasi dalam pertanian tentu memerlukan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara berkomitmen untuk mendaftarkan kedua varietas kakao lokal tersebut ke Kementerian Pertanian.
Proses pendaftaran ini tidak hanya akan melindungi hak cipta penemuan lokal tetapi juga memperkuat branding komoditas pertanian di Lombok Utara. Dengan langkah ini, diharapkan kakao lokal dapat dikenal lebih luas baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami akan berupaya untuk mendapatkan pengakuan dari Kementerian Pertanian pada tahun depan,” ungkap Tresnahadi. Harapan ini akan menjadikan varietas kakao lokal sebagai kebanggaan daerah dan membuka peluang ekspor bagi para petani.
Secara keseluruhan, penemuan dua varietas kakao ini menciptakan sinergi positif antara inovasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan kualitas produk pertanian di Lombok Utara. Para petani berharap agar inovasi ini dapat berlanjut dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.






















