www.tempoaktual.id – Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan prestasi luar biasa dalam pengadaan gabah dan beras pada tahun 2025. Pimpinan Wilayah Perum Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, mengungkapkan bahwa realisasi penyerapan mencapai 188.754 ton setara beras, melampaui target yang ditetapkan, yakni 103,75 persen.
Hal ini disampaikan dalam Rapat Evaluasi Pengadaan Gabah dan Beras Tahun 2025 yang berlangsung di Ballroom Aston Inn Hotel, Mataram. Keberhasilan ini menjadi bukti sinergi antara Bulog, pemerintah daerah, TNI, serta petani yang mendukung tercapainya target tersebut.
Siregar juga menjelaskan bahwa NTB berperan penting sebagai lumbung pangan nasional. Dalam satu tahun, Bulog NTB berhasil menyerap sekitar 320.171 ton gabah kering panen (GKP) dan 17.847 ton beras, yang berkontribusi sebesar 5,78 persen dari pengadaan nasional total 3,21 juta ton setara beras.
Dengan tingginya angka serapan, semua 16 komplek gudang Bulog NTB, yang memiliki daya tampung total 117.500 ton, kini terisi penuh. Untuk menjaga stok dan distribusi yang lancar, Bulog memanfaatkan gudang mitra serta fasilitas sewa tambahan.
Pada saat ini, stok beras di NTB tercatat sekitar 160.700 ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mencakup 158.849 ton dan stok komersial sebanyak 1.852 ton. Dengan sejumlah ini, ketersediaan beras di NTB sangat aman dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lebih dari 30 bulan ke depan.
Peran Bulog dalam Menjaga Ketersediaan Pangan di NTB
Peran Bulog sangat penting dalam menjaga ketersediaan pangan di NTB dan memastikan stabilitas harga pangan. Siregar menegaskan, kerjasama yang solid dengan pemerintah dan berbagai pihak merupakan kunci kesuksesan dalam pengadaan. Keberhasilan dalam pengadaan ini tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan beras, tetapi juga menjaga kelangsungan hidup petani.
Dengan daya tampung gudang yang terisi penuh, Bulog NTB harus memikirkan strategi distribusi yang efisien. Penggunaan gudang mitra dan fasilitas sewa diharapkan dapat membantu mengelola keseluruhan arus bahan pangan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa stok beras tetap terjaga dan distribusi tetap berjalan dengan lancar.
Dalam upaya menjaga ketersediaan pangan, Bulog juga mengelola komoditas pangan lainnya seperti gula, minyak goreng, dan jagung pipilan. Oleh karena itu, penting bagi Bulog untuk tetap bersinergi dengan petani dan pihak-pihak terkait dalam menjaga kualitas dan stabilitas pasokan tersebut.
Dampak Peningkatan Serapan Gabah terhadap Petani
Peningkatan serapan gabah oleh Bulog tercatat berperan penting sebagai penyangga harga di tingkat petani. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi, menyebutkan bahwa ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan minat tanam dari petani. Ketika harga gabah terjaga, petani lebih terdorong untuk meningkatkan produksi mereka.
Berdasarkan data terbaru, produksi padi di NTB mencapai 1,69 juta ton gabah kering giling. Hal ini setara dengan 965.644 ton beras. Dengan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang telah ditetapkan Rp 6.500 per kilogram, diharapkan bisa memberikan kejelasan dan kepastian bagi petani akan pendapatan mereka.
Riadi juga menekankan pentingnya dukungan dari TNI melalui Tim Jemput Gabah, sebagai salah satu upaya untuk mendukung petani dalam meningkatkan hasil pertanian. Kebijakan penurunan harga pupuk yang mencapai 20 persen juga dinilai sebagai langkah yang positif dalam menjaga stabilitas harga.
Upaya Kabupaten untuk Mencapai Swasembada Pangan
Keberhasilan di sektor pertanian diharapkan menjadi kunci untuk mencapai swasembada pangan di NTB. Dengan dukungan dari berbagai pihak, produksi pangan diharapkan dapat terus meningkat. Jika ketersediaan pangan terjaga, maka masyarakat juga akan merasakan dampak positifnya.
Siregar menyatakan bahwa kolaborasi yang baik antara Bulog, pemerintah daerah, dan petani adalah faktor utama dalam mencapai keberhasilan ini. Memastikan agar petani mendapatkan harga yang baik untuk hasil pertanian mereka, serta memfasilitasi akses terhadap pupuk yang terjangkau, akan sangat membantu.
Dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian, diskusi dan evaluasi yang rutin diperlukan untuk merumuskan solusi yang tepat. Dengan analisis yang cermat dari data produksi, langkah-langkah strategis dapat dirumuskan demi kemajuan sektor pertanian di NTB.






















