www.tempoaktual.id – Abdul Sakban, seorang dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Mataram, berhasil mempertahankan disertasi yang luar biasa. Disertasi setebal 1.738 halaman ini menunjukkan hasil penelitian yang mendalam dan berkontribusi signifikan pada kajian etika dan kewarganegaraan di Indonesia.
Acara sidang promosi doktor ini berlangsung di Auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, dan dikepalai oleh Prof. Dr. Wawan Darmawan. Komposisi tim promotor yang ada juga mencerminkan integrasi ilmu dari beberapa disiplin terkait, menjadikan proses evaluasi lebih holistik dan komprehensif.
Dari penelitian ini, lahirlah Teori Dissonansi Religius-Kewargaan yang menjadikan disertasi ini tidak hanya sebuah karya akademis, tetapi juga sebagai respon terhadap fenomena sosial yang nyata. Oleh karena itu, keberhasilan Abdul Sakban adalah contoh nyata dari potensi dan peran penting akademisi dalam masyarakat.
Menelusuri Kontribusi Teori Dissonansi Religius-Kewargaan
Teori Dissonansi Religius-Kewargaan berupaya untuk menjelaskan ketegangan antara nilai-nilai agama dan praktik kekuasaan yang ada. Dalam masyarakat yang religius, sering kali muncul konflik yang dalam antara idealisme agama dan kenyataan sosial yang berlandaskan pada korupsi.
Di bawah tekanan kondisi ini, Abdul Sakban mengidentifikasi apa yang disebut dilema etika religius-kewargaan. Dilema ini semakin mempersulit individu dan kelompok dalam membuat pilihan moral yang tepat ketika dihadapkan pada situasi yang saling bertentangan.
Dalam konteks ini, disertasi ini menjadi lebih dari sekadar karya akademis; ia menjadi penanda penting dalam pemikiran sosial di Indonesia. Dengan mengedepankan teori baru, pembaca akan diajak untuk mempertimbangkan lebih dalam tentang etika dan tanggung jawab kewarganegaraan.
Metode Penelitian dalam Disertasi yang Menggugah Pikiran
Pendekatan etnografi kritis yang digunakan dalam penelitian ini menjadikannya unik dan menyeluruh. Abdul Sakban melakukan observasi partisipatif di empat perguruan tinggi utama di Mataram, yang mewakili keberagaman etnis dan agama di kawasan tersebut.
Melalui wawancara mendalam dan analisis dokumen, peneliti dapat menangkap dinamika kesadaran moral di kalangan mahasiswa dan aktivis kampus. Observasi ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana realitas korupsi mempengaruhi generasi muda dan pandangan mereka terhadap nilai-nilai moral.
Dengan metode yang inovatif dan terintegrasi, penelitian ini berhasil menghadirkan sudut pandang baru mengenai bagaimana isu sosial dan moral berkabung dalam realitas kehidupan sehari-hari. Implikasi dari penelitian ini memiliki dampak luas terhadap pendidikan dan penerapan etika dalam konteks kewarganegaraan.
Evaluasi Dampak Teori pada Upaya Pemberantasan Korupsi di Indonesia
Salah satu kontribusi signifikan dari teori DRK adalah dalam upaya pencegahan korupsi di Indonesia. Abdul Sakban menyatakan bahwa lebih dari sekadar pendekatan hukum yang diperlukan, kesadaran moral juga harus menjadi prioritas. Pemberantasan korupsi harus menyentuh berbagai dimensi kehidupan sosial dan keagamaan.
Teori ini menegaskan perlunya integrasi antara religiusitas simbolik dan etika publik. Pemberantasan tidak hanya perlu dilakukan dengan pendekatan struktural, tetapi juga harus melibatkan perubahan perilaku dan kesadaran moral individu dan masyarakat.
Keberhasilan penerapan teori ini dalam masyarakat bisa jadi sangat berpotensi, mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, disertasi ini tidak hanya menjadi sumbangan bagi dunia akademis, tetapi juga bagi kebijakan publik dan pembentukan etika kewarganegaraan yang lebih baik.






















