www.tempoaktual.id – Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk bekerja ke luar negeri meningkat secara signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sebanyak 25.062 warga NTB telah resmi berangkat bekerja di berbagai negara, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Mayoritas pekerja migran asal NTB memilih negara seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura sebagai tujuan utama. Fenomena ini menggambarkan bukan hanya pencarian nafkah, tetapi juga harapan untuk perubahan kualitas hidup bagi banyak orang.
Selain itu, analisis menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka berasal dari Pulau Lombok, yang menjadi pusat pengiriman tenaga kerja migran. Kabupaten-kabupaten di wilayah ini mendominasi angka pengiriman, menciptakan pola baru dalam dinamika ekonomi masyarakat lokal.
Analisis Penempatan Pekerja Migran Asal NTB di Tahun 2025
Berdasarkan data dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB, Malaysia menjadi tujuan kerja terpopuler bagi pekerja migran. Secara spesifik, sekitar 88,89 persen penempatan dilakukan di negara tersebut, menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap peluang kerja di sana.
Sementara itu, di Brunei Darussalam dan Singapura, persentase penempatan masing-masing mencapai 8,64 persen dan 2,47 persen. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa pekerja migran dari NTB memang cenderung memilih negara-negara dengan sistem ekonomi yang lebih stabil.
Pemantauan dari BP3MI juga menunjukkan bahwa jenis pekerjaan terbanyak yang diambil adalah di sektor perkebunan. Hal ini mencerminkan kebutuhan industri di negara tujuan, di mana terdapat kekurangan tenaga kerja di bidang tersebut.
Daerah Asal dan Kontribusi Terhadap Tenaga Kerja Migran
Jika dilihat dari daerah pengirim, Kabupaten Lombok Tengah mencatatkan angka tertinggi dengan kontribusi 41,36 persen. Diikuti oleh Kabupaten Lombok Timur yang berkontribusi sebesar 33,95 persen dan Lombok Barat 20,99 persen.
Di sisi lain, kota-kota lain seperti Mataram dan Lombok Utara hanya menyumbang masing-masing sekitar 1,23 persen. Kabupaten Bima dan Sumbawa juga berkontribusi kecil dengan masing-masing 0,62 persen.
Data ini menunjukkan kuatnya dominasi Lombok dalam pengiriman tenaga kerja, yang mungkin berhubungan erat dengan tradisi migrasi di daerah tersebut. Masyarakat setempat telah beradaptasi dengan sistem ini, menjadikannya cara hidup yang berkelanjutan.
Pekerjaan yang Dijalani Oleh Pekerja Migran dari NTB
Pekerjaan di sektor perkebunan mendominasi penempatan dengan persentase mencapai 88,27 persen. Ini menjadi cermin akan kebutuhan industri yang tinggi untuk pekerja di sektor yang padat karya ini.
Selain itu, ada juga pekerja di sektor lain seperti konstruksi dan pekerjaan domestik. Statistik menunjukkan bahwa pekerjaan-pekerjaan lain seperti koki atau pekerja umum meningkat, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.
Dengan sebagian besar PMI berasal dari golongan laki-laki, proporsi 93,21 persen dibandingkan 6,79 persen perempuan menunjukkan tren demografis yang masih mempengaruhi struktur tenaga kerja di sektor terkait.






















