www.tempoaktual.id – Pemkot Mataram kini menginisiasi sebuah program inovatif untuk penanganan sampah di lingkungan sekolah. Melalui inisiatif ini, sekolah-sekolah di Mataram diharapkan dapat lebih responsif dalam mengelola sampah yang dihasilkan, sekaligus meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya kebersihan lingkungan.
Program ini dikenal dengan nama Tempah Dedoro, yang menekankan sistem pemilahan sampah di sumbernya. Diharapkan dengan langkah ini, masalah sampah yang kerap mengganggu estetika dan kesehatan lingkungan dapat teratasi dengan lebih efektif.
Di SMPN 6 Mataram, pelaksanaan program ini mulai dilakukan dengan menyiapkan wadah-wadah khusus untuk sampah. Waka Umum sekolah tersebut, I Gusti Nyoman Saptari, menjelaskan bahwa mereka telah mempersiapkan dua jenis tempat sampah untuk mengakomodasi sampah organik dan non-organik.
Dengan penggunaan gumbleng, sampah organik akan dikumpulkan dan diolah lebih lanjut melalui proses pengomposan. Saptari menambahkan bahwa mereka memerlukan delapan wadah lagi untuk menangani jumlah sampah yang terus bertambah setiap harinya.
Penerapan program ini semakin didukung dengan sosialisasi kepada siswa. Pihak sekolah menyampaikan pentingnya memilah sampah dan mengenali jenis-jenisnya, yang merupakan bagian dari pendidikan kebersihan yang holistik.
Pentingnya Kesadaran Lingkungan di Kalangan Siswa
Menanamkan nilai-nilai kebersihan kepada siswa merupakan langkah krusial dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik. Dengan program Tempah Dedoro, siswa diajarkan untuk bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.
Kegiatan sosialiasi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pemahaman dasar, tetapi juga mampu membentuk kebiasaan baru di kalangan siswa. Dengan demikian, mereka akan lebih peka terhadap masalah lingkungan di sekitar mereka.
Sekolah-sekolah di Mataram juga menerapkan berbagai metode pendidikan untuk mendukung program ini. Baik melalui workshop, seminar, maupun kegiatan praktis, semua itu bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Melalui kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua, program ini berpotensi menghasilkan dampak yang lebih besar. Kesadaran akan pentingnya peran setiap individu dalam menjaga lingkungan menjadi landasan untuk perubahan yang lebih baik.
Kini, setiap sekolah berkompetisi untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, yang pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini layak menjadi model bagi daerah lain yang ingin mengatasi masalah sampah.
Implementasi Program Tempah Dedoro di Beberapa Sekolah
SDN 37 Cakranegara adalah salah satu contoh lain yang mengikuti jejak SMPN 6 dalam pelaksanaan program Tempah Dedoro. Meski menggunakan metode berbeda, mereka tetap fokus pada pengelolaan sampah yang efektif.
Kepala SDN 37 Cakranegara, Alwi, menyampaikan bahwa mereka menggunakan karung plastik sebagai alternatif tempat sampah non-organik. Setiap kelas dilengkapi dengan karung untuk memfasilitasi pemilahan sampah.
Secara khusus, sampah organik ditempatkan di lokasi khusus di belakang sekolah. Dengan pengangkutan yang dilakukan setiap minggu, mereka memastikan bahwa sampah tidak menumpuk dan mengganggu lingkungan sekolah.
Pihak sekolah terus berupaya memberikan edukasi kepada siswa mengenai pemilahan sampah. Mereka juga berupaya mengurangi penggunaan plastik dengan meningkatkan kesadaran akan implications penggunaan material tersebut.
Dengan langkah-langkah proaktif ini, SDN 37 Cakranegara menunjukkan komitmen mereka untuk mendukung program pemkot. Tidak hanya fokus pada aspek kebersihan, tetapi juga membangun kesadaran yang lebih baik di kalangan generasi muda.
Dukungan Dinas Pendidikan dalam Program Pengelolaan Sampah
Dinas Pendidikan Kota Mataram berperan penting dalam mendorong pelaksanaan program Tempah Dedoro di semua sekolah. Dengan dukungan mereka, sekolah-sekolah diharapkan dapat lebih memahami pentingnya mengelola dan memilah sampah.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Naufal Aldian, menekankan perlunya semua sekolah berkontribusi dalam usaha ini. Saat ini, sekitar 80 persen dari total sekolah sudah menerapkan program tersebut, namun masih ada yang perlu didorong untuk ikut berpartisipasi.
Dengan mengadakan pertemuan berkala dengan kepala sekolah, Dinas Pendidikan memastikan bahwa setiap sekolah mendapatkan informasi dan panduan yang diperlukan. Pihaknya juga berharap bahwa desain Tempah Dedoro dapat diperbaiki untuk menambah estetika.
Naufal menekankan agar sekolah-sekolah berinovasi dalam pembuatan wadah sampah. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan, tetapi juga menjadi elemen yang mempercantik lingkungan sekolah.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat mendorong sekolah untuk tidak hanya menjadi pendorong kebersihan, tetapi juga model bagi masyarakat di sekitar mereka. Dengan demikian, penanganan sampah bisa dilakukan dengan lebih baik dan terorganisir.






















