www.tempoaktual.id – Ikatan Keluarga Alumni dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) kembali menunjukkan komitmen luar biasa dalam meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan Continuing Medical Education (CME) ke-42 yang diadakan secara daring, dalam sebuah seminar yang diikuti oleh 229 peserta pada tanggal 11 Januari 2026.
CME kali ini mengusung tema “Diabetic and Complication: Early Detection and Update Management Strategies”. Tema ini sangat relevan, mengingat diabetes melitus dan komplikasinya masih menjadi salah satu tantangan utama dalam pelayanan kesehatan nasional saat ini.
Dua narasumber utama yang berkompeten di bidangnya hadir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Narasumber pertama adalah dr. Lalu Buly Fatrahady Utama, Sp.PD, FINASIM, dengan topik “Comprehensive Management of Diabetic Complications”, dan kedua, Dr. dr. I Nyoman Dwija Putra, Sp.B., SubSp.BD(K), MH., FISA., FICS, yang membahas “Diabetic Foot Prevention and Management: From Screening to Advanced Wound Care”.
Komitmen Terus Menerus untuk Peningkatan Kompetensi Tenaga Kesehatan
Keberlangsungannya acara CME ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pihak Fakultas Kedokteran Unizar untuk terus mendukung pengembangan pendidikan kedokteran di Indonesia. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa fakultas berusaha untuk menjawab tantangan dalam pelayanan kesehatan yang terus berkembang.
Dalam laporan Ketua Panitia CME ke-42, dr. Sheila Intan Permatasari, S.Ked, dijelaskan bahwa perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi kesehatan saat ini memerlukan transformasi pendidikan yang relevan dan berkelanjutan. Transformasi ini mencakup kurikulum, metode pembelajaran, dan asesmen serta pengembangan profesional tenaga medis.
Pendidikan kedokteran bukan hanya sekadar penguasaan ilmu klinis semata, melainkan juga pembentukan perilaku profesional, etika, dan fokus pada keselamatan pasien. Dengan perkembangan ini, diharapkan dokter mampu beradaptasi dengan tantangan global serta kebutuhan masyarakat.
Pentingnya Kesadaran atas Diabetes dan Komplikasinya
Diabetes melitus, meski dianggap sebagai penyakit tidak menular, terus menunjukkan peningkatan, baik dalam prevalensi maupun dampaknya. Kegiatan CME ini sangat strategis mengingat tren diabetes yang meningkat, yang berimplikasi pada angka kesakitan dan biaya kesehatan di masyarakat.
Prof. dr. Rosdiana Natzir, Ph.D., Sp.Biok., selaku Dekan FK Unizar, menegaskan bahwa seminar ini merupakan tanggung jawab akademik dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Dalam sesi ini, diharapkan peserta dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam penatalaksanaan diabetes serta komplikasinya.
Kami percaya bahwa dengan pengetahuan yang lebih baik, tenaga kesehatan akan mampu memberikan layanan yang lebih baik pula. Hal ini akan bermanfaat tidak hanya bagi pasien, tetapi juga untuk sistem kesehatan nasional secara keseluruhan.
Peran Strategis Narasumber dalam CME ke-42
Pada sesi presentasi, dr. Lalu Buly Fatrahady Utama menekankan bahwa diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis yang serius. Penyakit ini tidak hanya meningkatkan kadar gula darah, tetapi juga berpotensi memicu berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Ia menjelaskan betapa banyak pasien yang baru terdiagnosis diabetes setelah mengalami komplikasi yang berat, suatu situasi yang sangat menyulitkan dalam pengelolaan dan penanganan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bahwa manajemen diabetes tidak hanya sekadar menurunkan glukosa darah.
Di sisi lain, Dr. dr. I Nyoman Dwija Putra menyoroti masalah kaki diabetes. Diabetic foot adalah salah satu komplikasi yang serius, dan jika tidak ditangani dengan baik, dapat menyebabkan kecacatan bahkan amputasi. Data menunjukkan bahwa angka kejadian diabetic foot di Indonesia sekitar 15 persen dari seluruh penyandang diabetes.
Strategi Pencegahan dan Manajemen Kaki Diabetes
Dalam pemaparan mengenai diabetic foot, Dr. Dwija menekankan pentingnya pencegahan yang harus dimulai sejak dini. Skrining rutin dan edukasi perawatan kaki yang benar sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.
Intervensi awal sangat penting, dan pengendalian faktor risiko seperti kontrol gula darah serta penghindaran infeksi harus dilakukan. Hal ini penting untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya ulkus berat yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Jumlah penyandang diabetes di dunia sangat mengkhawatirkan, dengan proyeksi pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita memiliki peluang untuk mengurangi dampak diabetes di masyarakat, dan CME ini menjadi salah satu langkah awal yang baik.
Unizar, sebagai kampus swasta pertama di Nusa Tenggara Barat dengan Fakultas Kedokteran, terus berkomitmen untuk pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan. Melalui kegiatan secara berkala seperti CME, diharapkan mampu mewujudkan pendidikan kedokteran yang berkualitas.
Dengan kerjasama antara fakultas, alumni, dan pemangku kepentingan, CME ke-42 tidak hanya bertujuan untuk pertukaran ilmu, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di tanah air.






















