www.tempoaktual.id – Mataram – BASAntb menggelar dialog kebijakan publik II di Ruang Rapat Lakey, Bappeda NTB pada Kamis, 22 Mei 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Wikithon Partisipasi Publik, yang merangkum beragam opini dan gagasan dari para pemuda NTB mengenai upaya pencegahan kekerasan seksual. Acara ini berhasil menjaring ratusan suara anak muda yang penuh harapan dan keinginan untuk berkontribusi dalam isu sosial yang krusial ini.
Dialog ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran mengenai kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat. Banyak pemuda yang merasa perlu bersuara dan aktif terlibat dalam pencegahannya. Dengan demikian, dialog ini tidak hanya memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara, tetapi juga untuk merumuskan solusi yang lebih konkret dan aplikatif.
Peran Pemuda dalam Mencegah Kekerasan Seksual
Selama dialog kedua ini, peserta membahas rancangan aksi yang lebih konkret terkait peran pemuda dalam mencegah kekerasan seksual di NTB. Koordinator BASAntb, Walissa Tanaya Pramanansari, akrab dipanggil Naya, mengungkapkan pentingnya dialog sebagai platform untuk berdiskusi. “Dialog ini adalah wadah bagi pemuda, komunitas, dan pemerintah untuk berkolaborasi membahas isu publik,” ujarnya.
Dalam dialog pertama, beberapa program pilihan dari ide-ide pemuda telah diidentifikasi dan siap disinergikan. Namun, tujuan dialog kedua adalah untuk mengkonkretkan implementasi dari ide-ide tersebut. Naya menekankan bahwa pemuda perlu terus bersuara dan memberikan gagasan untuk menekan angka kasus kekerasan seksual. Dalam proses ini, mereka juga diharapkan mampu memahami isu dengan lebih baik melalui lokakarya substantif yang telah dilakukan sebelumnya.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Meskipun BASAntb telah melakukan berbagai langkah positif, mereka masih menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang terlibat aktif dalam program yang dicanangkan. Naya menjelaskan, “Kami sedang berada dalam tahap peningkatan pemahaman dan perluasan ruang untuk menggali pengetahuan tentang isu kekerasan seksual.”
Apresiasi juga diberikan kepada pemerintah atas dukungan terhadap program-program BASAntb. Namun, andaikan ada kebijakan baru yang menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi. “Kami terus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, tetapi efisiensi yang diterapkan oleh pemerintah juga menjadi tantangan bagi kami untuk mewujudkan program-program yang berdampak bagi pemuda,” tandasnya.
Naya berharap agar kolaborasi antara pemuda dan pemerintah dapat terjalin dengan baik di masa depan. “Sinergi antara komunitas, pemerintah, dan akademisi sangat penting untuk memperkuat ide-ide yang diajukan oleh pemuda, sehingga mereka dapat belajar dan menyempurnakan gagasan-gagasan yang ada,” tutupnya.






















