www.tempoaktual.id – Politeknik Negeri Bali baru-baru ini merayakan pencapaian penting dengan pengukuhan enam guru besar baru. Melalui acara bersejarah ini, institusi pendidikan tersebut kini memiliki total 17 profesor di berbagai bidang keahlian.
Pengukuhan berlangsung di kampus Bukit Jimbaran, tepatnya di Gedung Widya Padma. Dalam acara yang digelar pada Kamis, 25 Oktober 2025, para guru besar baru ini berasal dari beragam departemen, menunjukkan kekayaan perspektif dan ilmu yang dimiliki Politeknik Negeri Bali.
Di antara yang dikukuhkan, I Gede Mudana diakui sebagai guru besar ke-17 dengan fokus pada bidang pariwisata. Melalui orasi ilmiah yang bertemakan ‘Pariwisata Budaya Berkelanjutan’, ia menciptakan ruang diskusi mengenai integrasi konservasi budaya dengan praktik berkelanjutan.
Menggali Konsep Pariwisata Budaya Berkelanjutan untuk Masa Depan
Gagasan yang diusulkan oleh Mudana sangat relevan, menjawab tantangan globalisasi yang semakin mendominasi sektor pariwisata. Ia menekankan pentingnya menciptakan keseimbangan antara pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan pelestarian nilai-nilai lokal.
Melalui pendekatan sustainable cultural tourism, Mudana memfasilitasi diskusi antara adopsi praktik global dan penguatan identitas lokal. Dengan memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan yang ada, model ini diharapkan dapat memberikan solusi yang saling menguntungkan.
Mudana memaparkan bahwa baik globalisasi maupun lokalisasi memiliki perannya masing-masing dalam mendefinisikan pariwisata masa kini. Dia menekankan bahwa untuk mencapai keberlanjutan, kedua aspek ini harus dapat saling mengisi dan mendukung.
Menstabilkan Normativitas dan Penelitian dalam Pariwisata Budaya
Dalam pengamatannya, Mudana mengidentifikasi kebutuhan bagi pariwisata budaya untuk memiliki norma-norma yang jelas dan terukur. Ia mengakui bahwa selama ini banyak aspek pariwisata budaya yang belum diolah dalam bentuk pengetahuan ilmiah.
Pentingnya menggali dan mendokumentasikan pengetahuan ini menjadi sorotan utama, mengingat budaya di dunia Timur seringkali hanya ada dalam bentuk tacit knowledge. Dalam konteks ini, Mudana menyerukan adanya pendekatan ilmiah yang lebih sistematis untuk mengangkat potensi budaya.
Melalui penelitian yang terukur, diharapkan pariwisata budaya tidak hanya menjadi kegiatan yang berorientasi pada profit, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial dan budaya bagi masyarakat setempat.
Kesinambungan antara Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat Sipil dalam Pariwisata
Mudana juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam mengimplementasikan nilai-nilai pariwisata budaya berkelanjutan. Keterlibatan semua pihak diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang menyokong keberlanjutan pariwisata.
Ia menyoroti bahwa meskipun sudah ada regulasi seperti Peraturan Daerah yang mengatur pariwisata budaya, implementasi di lapangan sering kali tidak konsisten. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh pemangku kepentingan.
Untuk mengoptimalkan potensi yang ada, penting bagi semua pihak untuk bertindak secara proaktif dan berkomitmen dalam menjalankan prinsip-prinsip pariwisata yang berkelanjutan.
Identitas Budaya dalam Era Globalisasi dan Pariwisata Berkelanjutan
Salah satu poin penting yang disampaikan Mudana adalah bahwa perubahan brand pariwisata budaya bukanlah sebuah keharusan. Alih-alih mengganti identitas yang sudah ada, lebih baik menambahkan dan memperkuat nilai-nilai pariwisata berkelanjutan ke dalam praktik yang sudah berjalan.
Pentingnya mempertahankan identitas dan sejarah budaya menjadi acuan dalam menyusun strategi baru. Jika hal ini diabaikan, kekhawatiran akan hilangnya warisan budaya menjadi sangat nyata.
Dengan pendekatan yang lebih inklusif, pariwisata budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya, menciptakan sinergi antara modernitas dan tradisi.






















