www.tempoaktual.id – Tantangan pendidikan di abad 21 mengharuskan para pendidik untuk tidak hanya mengandalkan metode pengajaran tradisional. Mereka juga perlu menguasai berbagai aspek literasi internasional serta keterampilan dalam memanfaatkan teknologi modern untuk mendukung proses belajar mengajar.
Dalam konteks ini, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Mataram (Unram), melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Aula SMPN 13 Mataram pada 13 September 2025. Kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 50 peserta yang terdiri dari para guru di Kota Mataram.
Acara ini dibuka oleh Joko Suroso, S.Pd., Pengawas Guru Bahasa Indonesia SMP/MTs dari Dinas Kota Mataram. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi yang berkelanjutan antara MGMP SMP Kota Mataram dan FKIP Unram untuk meningkatkan literasi siswa.
Pentingnya Kerja Sama dalam Meningkatkan Literasi Siswa di Mataram
Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs Kota Mataram, Ahmad Hambali, S.Pd., Gr., menyatakan bahwa program ini telah dirancang dengan matang sejak awal tahun. Dia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan berharga bagi para guru untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam literasi berbasis standar PISA dan pemanfaatan media digital.
Menurutnya, literasi yang berfokus pada PISA serta penggunaan teknologi digital bukanlah pilihan lagi, melainkan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Kesiapan guru dalam menghadapi kemajuan zaman adalah hal yang sangat penting.
Hambali juga menekankan bahwa dunia pendidikan perlu beradaptasi agar tidak tertinggal. Dalam konteks ini, pemahaman atas literasi internasional dan teknologi digital menjadi sangat penting bagi para pendidik.
Memahami Literasi PISA dalam Konteks Lokal
Sesi pertama dari kegiatan ini dipandu oleh Januari Rizki Pratama R., M.Hum., yang membahas strategi pembelajaran berbasis PISA. Ia menggambarkan bahwa literasi PISA tidak saja menuntut pemahaman teks, tetapi juga kemampuan menganalisis, mengevaluasi, hingga menyintesis informasi dari beragam sumber.
Marlinda Ramdhani, M.Pd., mengikuti sesi tersebut dengan menjelaskan pentingnya konteks lokal dalam instrumen literasi. Ia mencatat bahwa hasil literasi siswa di Lombok sering kali tidak memadai, sebagian besar disebabkan oleh minimnya keterpaparan terhadap teks yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Ia berpendapat bahwa penggunaan teks berbasis budaya dan kehidupan sehari-hari di Lombok dapat menjadikan proses pembelajaran lebih bermakna. Teks-teks tersebut harus tetap memenuhi standar PISA agar relevan dengan tujuan literasi internasional.
Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Literasi
Sesi selanjutnya diisi oleh Pipit Aprilia Susanti, M.Pd., yang mengenalkan aplikasi Wayground, platform pembelajaran interaktif berbasis permainan. Aplikasi ini dianggap sejalan dengan metode Game-Based Learning yang kini banyak diterapkan dalam pendidikan modern.
Aplikasi ini menyediakan beragam fitur untuk membuat soal interaktif — mulai dari menjodohkan hingga drop-down. Keberadaan fitur-fitur ini memberikan nilai lebih dalam mengukur kemampuan literasi membaca siswa.
Pipit menekankan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran tidak hanya menarik minat siswa, tetapi juga mempermudah guru dalam melakukan asesmen. Penggunaan aplikasi ini memungkinkan guru untuk melakukan evaluasi dengan lebih cepat dan efisien.
Melahirkan Inovasi dalam Penilaian dan Pengukuran Literasi
Program pengabdian ini tidak hanya terhenti pada pelatihan, tetapi juga mencakup tahap lanjutan dengan uji ahli dan uji butir soal. Ini melibatkan beberapa SMP/MTs di Kota Mataram untuk memastikan bahwa instrumen yang dibuat dapat dipakai secara efektif dalam mengukur literasi siswa.
Kegiatan ini diupayakan melalui pendanaan dari Hibah DPPM Kemdiktisaintek tahun 2025, dan menjadi bentuk nyata kontribusi FKIP Unram. Dengan pelatihan ini, diharapkan guru dapat menggunakan hasilnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah setempat.
Integrasi antara dosen, pengawas, dan guru melalui MGMP diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas para pendidik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya literasi dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Upaya ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang memiliki kemampuan literasi yang lebih baik.






















