www.tempoaktual.id – Kelangkaan elpiji 3 kilogram di Kota Mataram sudah menjadi masalah yang tidak asing lagi bagi masyarakat. Selama beberapa minggu terakhir, banyak warga yang harus menunggu berjam-jam di berbagai pangkalan untuk mendapatkan gas bersubsidi yang semakin sulit ditemukan.
Salah seorang warga, Suhartini, mengungkapkan bagaimana proses mendapatkan elpiji semakin menantang. Ia harus datang sejak pagi untuk berjuang mendapatkan gas yang dibutuhkannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini menjadi semakin pelik ketika sejumlah warga mengeluhkan bahwa kelangkaan ini bukanlah hal baru. Selama lebih dari sebulan, mereka merasakan dampak dari kekurangan pasokan yang terjadi di tengah lonjakan permintaan.
Kondisi Masyarakat yang Bergantung pada Elpiji Bersubsidi
Masyarakat kecil merupakan kelompok yang paling merasakan dampak dari kelangkaan elpiji. Banyak yang sangat bergantung pada gas bersubsidi ini untuk kebutuhan rumah tangga, bahkan usaha kecil.
Di tengah kerumunan antrean panjang, Suhartini berdiri dengan lima tabung kosong yang siap ditukar. Ia sudah pasrah dengan kenyataan bahwa ia mungkin hanya akan mendapatkan dua atau tiga tabung.
Fenomena antrean panjang di pangkalan gas tidak hanya dialami oleh Suhartini. Warga lain, seperti Nurul dari Pejanggik, juga harus berjuang untuk mendapatkan elpiji 3 kilogram. Ia bahkan menyatakan bahwa dulu ia bisa mendapatkan gas bahkan ketika datang malam hari.
Harga yang Melambung Tinggi di Tengah Kelangkaan
Harga elpiji juga ikut melonjak akibat kelangkaan ini. Meski harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan sekitar Rp18.000, di warung-warung kecil, harga bisa melonjak hingga Rp20.000–Rp25.000 per tabung.
Nurul menyatakan upayanya untuk membeli langsung ke pangkalan, meskipun dengan kuota terbatas. Mengandalkan pengecer justru membuatnya harus mengeluarkan biaya lebih besar.
Harapan masyarakat pun tertuju pada pemerintah untuk mengatasi masalah distribusi ini. Mereka mendesak agar langkah-langkah segera diambil untuk menjamin ketersediaan elpiji bagi masyarakat kecil.
Penyebab Utama Kelangkaan Elpiji
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengungkapkan bahwa masalah sebenarnya terletak pada lonjakan permintaan. Ia menjelaskan bahwa saat ini permintaan elpiji meningkat, terutama menjelang bulan Maulid.
Setiap kali gas tiba di pangkalan, tabung-tabung tersebut langsung habis diborong oleh warga. Hal ini menunjukkan pentingnya perlunya manajemen distribusi yang lebih baik.
Pemerintah telah berusaha untuk berkoordinasi dengan Pertamina guna menambah pasokan elpiji. Diharapkan, dengan penambahan ini, distribusi dapat kembali normal dalam waktu dekat.
Upaya Menangani Permasalahan Kelangkaan Elpiji
Pemerintah lokal berkomitmen untuk menyelesaikan masalah kelangkaan ini. Dengan penambahan pasokan, diharapkan masyarakat tidak perlu lagi berharap lama-lama di pangkalan gas.
Jika langkah-langkah tepat dapat diterapkan, diharapkan ketersediaan elpiji bersubsidi akan kembali ke kondisi normal. Ini sangat penting bagi keluarga berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada elpiji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini membutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak agar masalah kelangkaan dapat segera diatasi dan ketersediaan elpiji stabil. Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya bertindak reaktif, tetapi juga proaktif dalam menangani isu yang sudah berulang ini.






















