www.tempoaktual.id – Kurma Ukhuwah Datu Nusantara, varietas lokal dari Kabupaten Lombok Utara, telah terpilih untuk mewakili Indonesia dalam festival kurma internasional di Abu Dhabi. Acara ini diadakan pada bulan Oktober dan November 2025, dan ini adalah tonggak penting bagi pemajuan pertanian di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kehadiran kurma dari NTB di panggung global mencerminkan kualitas unggul yang dimiliki oleh kurma lokal, yang didukung oleh pengembangan riset dan inovasi. Ajang ini diharapkan bisa membuka peluang baru untuk investasi dan wisata bagi daerah tersebut.
Perwakilan dari asosiasi kurma Indonesia menyatakan bahwa keberhasilan ini tidak hanya membanggakan, tetapi juga menunjukkan potensi daerah untuk bersaing di pasar internasional. Hal ini akan meningkatkan kesadaran global akan keberagaman produk pertanian Indonesia.
Promosi Kurma Lokal Melalui Festival Internasional
Festival kurma di Abu Dhabi merupakan salah satu tempat terbaik untuk memperkenalkan Kurma Ukhuwah Datu Nusantara kepada dunia. Kegiatan ini diharapkan dapat menarik minat investor serta memperluas akses pasar bagi produk lokal.
Keberhasilan produk ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Kedutaan Besar RI di Uni Emirat Arab. Inisiatif ini akan membantu promosi produk yang berkualitas dan memperkuat citra Indonesia di mata internasional.
Masyarakat setempat juga diharapkan dapat turut terlibat dalam pengembangan dan pemasaran kurma ini. Dengan adanya dukungan investasi, mereka akan mendapatkan manfaat langsung dari peningkatan ekonomi yang dihasilkan.
Kualitas dan Keunggulan Kurma NTB
Kurma dari NTB sudah terbukti memiliki kualitas yang baik, setelah diuji oleh asosiasi internasional. Dalam penilaian yang dilakukan, kurma dari Lombok Utara berhasil meraih peringkat ketujuh dunia yang menunjukkan kualitasnya di pasar global.
Salah satu faktor utama dari keberhasilan ini adalah kondisi tanah vulkanik yang subur dan iklim yang mendukung pertumbuhan tanaman kurma. Metode budidaya yang menggunakan pupuk organik juga menjadi salah satu keunggulan yang membuat kurma ini lebih diminati.
Upaya pengembangan kurma di NTB juga menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Saat ini, sekitar 30 hektare lahan sudah ditanami dengan 5.000 pohon kurma yang tersebar di wilayah Rempeg dan Kayangan.
Inovasi dalam Pengembangan Bibit Kurma
Pemerintah daerah NTB, melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), juga melakukan terobosan dalam pengembangan bibit kurma. Inovasi ini menggunakan teknik kultur jaringan untuk memastikan bibit yang ditanam berasal dari induk yang sudah terbukti berbuah.
Dengan sistem ini, laju pertumbuhan dan hasil panen kurma diharapkan bisa lebih cepat dan efisien. Keberhasilan dalam pengembangan bibit menjadi langkah penting untuk memperluas area tanam kurma di wilayah NTB.
Untuk mendukung hal tersebut, lahan yang digunakan oleh para petani juga dioptimalkan dengan sistem tumpang sari. Dalam waktu yang bersamaan, petani dapat membudidayakan tanaman lain yang bernilai ekonomi tinggi.
Peluang Ekonomi Baru untuk Masyarakat NTB
Kombinasi antara kurma dan tanaman kacang sacha inchi diyakini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi petani di NTB. Selain nilai jual buah kurma yang tinggi, kacang sacha inchi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi, baik dari segi minyak maupun produk olahan lainnya.
Kacang sacha inchi dikenal sebagai sumber nutrisi yang kaya dan telah banyak diminati di pasar global. Ini memberikan kesempatan bagi petani untuk mendapatkan hasil yang berkelanjutan sepanjang tahun tanpa harus menunggu panen kurma.
Melalui kolaborasi antara investasi dan pertanian, para petani diharapkan dapat merasakan manfaat yang lebih besar. Skema yang diterapkan sangat adil, di mana hasil dari panen dibagi antara petani dan investor dengan proporsional.






















