www.tempoaktual.id – Ketahanan pangan merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh setiap daerah, termasuk Kabupaten Lombok Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi ketahanan pangan di wilayah ini mengalami penurunan yang signifikan, terutama dalam produksi beras yang semakin berkurang.
Data terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 2025, defisit gabah setara beras di Kabupaten Lombok Utara mencapai angka yang cukup mencolok. Hal ini menjadi pertanda adanya masalah serius yang perlu segera diatasi untuk memastikan kecukupan pangan bagi masyarakat setempat.
Dalam lima tahun terakhir, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Lombok Utara telah melaporkan adanya penurunan neraca produksi padi. Penurunan ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan ketahanan pangan masyarakat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gabah di Lombok Utara
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan defisit produksi gabah setara beras. Salah satu yang paling utama adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi area pembangunan seperti perumahan dan pertokoan. Hal ini mengakibatkan berkurangnya luas lahan yang tersedia untuk pertanian.
Selain itu, faktor lain yang turut mempengaruhi adalah infrastruktur pertanian yang kurang optimal. Jaringan irigasi yang tidak memadai dan alat serta mesin pertanian yang terbatas sangat mempengaruhi tingkat hasil panen yang diperoleh oleh petani.
Perubahan iklim juga menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam sektor pertanian. Cuaca yang tidak menentu serta fenomena alam lainnya dapat mengganggu proses pertanian dan mempengaruhi hasil panen secara langsung.
Dampak Defisit pada Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat
Defisit gabah ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan, tapi juga mempengaruhi harga komoditas di pasar. Dengan permintaan yang tinggi dan pasokan yang rendah, harga beras bisa melonjak dan menyulitkan konsumen, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan antara penawaran dan permintaan, yang memungkinkan adanya inflasi pada komoditas tertentu. Namun, kepala dinas mengungkapkan bahwa harga beras saat ini masih terjaga berkat distribusi yang lancar.
Masyarakat juga mengalami dampak defisit di sektor lain, seperti produk ternak. Kebutuhan akan telur, daging ayam, dan daging sapi mengalami kekurangan, yang semakin menambah beban ekonomi keluarga. Keterlibatan masyarakat dalam produksi komoditas ini masih minim.
Upaya untuk Meningkatkan Produksi Pertanian dan Ketahanan Pangan
Untuk mengatasi masalah ketahanan pangan, diperlukan kolaborasi yang lebih baik antara pemerintah dan masyarakat. Salah satu langkah yang diambil adalah mempromosikan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk meningkatkan kemandirian pangan di tingkat lokal.
Pemerintah daerah juga berusaha mendorong optimalisasi budidaya padi di lahan kering dan tadah hujan. Ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi yang ada dan mengurangi ketergantungan pada lahan sawah yang terus berkurang.
Pembuatan regulasi yang mengatur alih fungsi lahan juga menjadi fokus utama. Dengan adanya Raperda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, diharapkan pengalihan fungsi lahan bisa dikontrol dengan lebih efektif agar lahan produktif tetap terjaga.






















