www.tempoaktual.id – Peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di NTB menjadi perhatian serius, meskipun angka kemiskinan menunjukkan penurunan yang signifikan. Situasi ini menciptakan suatu paradoks di mana pertumbuhan angkatan kerja tidak sebanding dengan penyerapan lapangan kerja, dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menyampaikan bahwa penyebab kenaikan TPT ini lebih dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan angkatan kerja yang melebihi kapasitas penyerapan tenaga kerja. Sektor investasi yang masuk, terutama di bidang pertambangan, lebih banyak menitikberatkan pada modal, bukan pada tenaga kerja terampil.
Investasi yang masuk di NTB didominasi oleh sektor seperti pertambangan yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja. Dengan kontribusi lebih dari 50 persen dari sektor ini, lapangan kerja baru yang tercipta menjadi terbatas.
Perbandingan Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja di NTB
Wahyudin menjelaskan bahwa investasi yang masuk lebih banyak terfokus pada pembangunan infrastruktur berat daripada sektor yang dapat menyerap banyak tenaga kerja. Meskipun terdapat investasi baru, serapan tenaga kerja yang minimal membuat situasi semakin rumit.
Pertumbuhan dalam sektor pariwisata di kawasan Mandalika juga tidak memberikan dampak substansial terhadap pengurangan angka pengangguran. Proyek-proyek baru cenderung merekrut tenaga kerja yang sudah ada, sehingga peningkatan aktivitas tidak diikuti dengan penyerapan tenaga kerja baru yang memadai.
Menurut laporan BPS, TPT NTB naik dari 2,73 persen pada tahun 2024 menjadi 3,06 persen pada tahun 2025. Peningkatan ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk strategi pembangunan kerja yang lebih inklusif dan produktif.
Perkembangan Angka Kemiskinan di NTB yang Positif
Selain peningkatan TPT, angka kemiskinan di NTB menunjukkan tren positif dengan mengalami penurunan dari 12,91 persen pada tahun 2024 menjadi 11,78 persen di tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengangguran meningkat, ada penanganan yang efektif dalam konteks pengentasan kemiskinan.
Wahyudin menekankan bahwa pengurangan angka kemiskinan harus menjadi fokus, dengan menawarkan peluang bagi masyarakat untuk mandiri dan berinovasi. Pemerintah daerah disarankan lebih mendukung investasi yang bersifat padat karya guna mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan.
Dalam sektor hilirisasi, ada banyak potensi yang belum dimanfaatkan, khususnya dalam industri kreatif seperti produksi perhiasan dari sumber daya lokal. Ketersediaan bahan baku bisa menjadi pendorong yang kuat untuk menciptakan lapangan kerja baru yang berkelanjutan.
Pentingnya Strategi Hilirisasi dalam Pembangunan Ekonomi
Wahyudin juga menyoroti pentingnya pengembangan industri pakan ternak, mengingat NTB memiliki produksi jagung yang besar. Dengan mengolah limbah perikanan dan hasil pertanian menjadi produk bernilai, daerah bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.
Industri pengolahan ikan tuna di Lombok Timur, contohnya, bisa menjadi model yang baik. Dengan memanfaatkan limbah yang dihasilkan, tidak hanya dapat menambah nilai ekonomi tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
Pemerintah daerah diharapkan lebih selektif dalam menarik investasi, terutama yang mampu menciptakan lapangan kerja secara signifikan. Pendekatan ini diyakini akan membantu mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kesimpulan Tentang Tantangan Dan Peluang di NTB
Pada akhirnya, tantangan pengangguran terbuka dan pengentasan kemiskinan di NTB saling terkait. Meskipun angka kemiskinan menunjukkan penurunan, hal ini tidak cukup untuk mengabaikan tingginya angka pengangguran yang terjadi. Dengan pengelolaan yang baik atas potensi yang ada, NTB memiliki peluang besar untuk mencapai kesejahteraan lebih baik.
Penting bagi semua pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk berkolaborasi. Hanya dengan pendekatan komprehensif, NTB bisa menuju masa depan yang lebih baik dengan lapangan kerja yang lebih terbuka dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Strategi investasi yang tepat dan fokus pada sektor yang padat karya bisa merangsang pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan sosial. Dapat dikatakan, NTB berada di jalur yang tepat, asalkan setiap langkah diambil dengan prinsip inklusivitas dan inovasi yang tinggi.






















