www.tempoaktual.id – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB menekankan pentingnya literasi dalam masyarakat. Literasi tidak hanya sekadar kemampuan membaca, tetapi menjadi fondasi dalam membangun generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing.
Generasi yang cerdas akan mampu menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, dan media.
Dalam sebuah acara di Gedung Layanan Perpustakaan, Kepala Dinas menyampaikan harapannya akan kekuatan literasi dalam mencetak generasi yang berkarakter dan berbudaya. Kerjasama dari berbagai elemen masyarakat sangat krusial dalam menciptakan lingkungan literasi yang kondusif.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di NTB saat ini berada pada posisi 29 dari 38 provinsi di Indonesia dengan skor 65,67. Penilaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) juga menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan, dengan posisi 34 dari 38 provinsi dan skor 60,42.
Upaya untuk meningkatkan TGM dan IPLM telah dilakukan melalui berbagai kegiatan melibatkan masyarakat dan komunitas literasi. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu membangun budaya membaca yang lebih baik dalam masyarakat.
Pemanfaatan Gerakan Literasi Tradisional untuk Membangun Budaya Membaca
Bunda Literasi NTB memainkan peran penting dalam menggerakkan literasi di daerah tersebut. Salah satu program yang diusung adalah Gerakan Literasi Tradisional (Gelitra), yang menekankan pada permainan dan cerita berbasis budaya lokal.
Dengan menghidupkan kembali permainan tradisional, diharapkan anak-anak akan lebih sedikit menggunakan gadget. Selain itu, cerita rakyat dan syair merupakan bagian penting dari warisan budaya yang sebaiknya dilestarikan.
Program ini mendorong terbentuknya Bunda Literasi di berbagai tingkatan, dari provinsi hingga desa. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam literasi dan menjaga tradisi lokal tetap hidup.
Pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan memberikan apresiasi atas perhatian Bunda Literasi yang aktif mendukung kegiatan komunitas literasi. Dengan melibatkan komunitas dalam Gerakan Literasi Tradisional, diharapkan akan tercipta lingkungan yang mendukung pengembangan budaya baca.
Diharapkan melalui program-program ini, literasi dapat menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka. Dengan demikian, wajah literasi akan menjadi lebih akrab, hangat, dan inspiratif bagi semua kalangan.
Pentingnya Penguatan Kapasitas Komunitas dalam Meningkatkan Literasi
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB berkomitmen untuk memperkuat komunitas literasi di daerah tersebut. Pendataan menunjukkan terdapat 145 komunitas literasi yang aktif, dan upaya mendorong pembentukan komunitas baru terus dilakukan.
Salah satu cara untuk memperkuat komunitas adalah dengan memberikan akses pada buku dan bahan bacaan. Komunitas literasi yang kuat dapat menjadi motor penggerak literasi di tingkat akar rumput, sehingga meningkatkan minat baca masyarakat.
Dalam konteks budaya, upaya pelestarian budaya lokal menjadi salah satu fokus utama. Dinas Perpustakaan merencanakan inventarisasi budaya dan digitalisasi dokumen budaya untuk lebih mengenalkan kearifan lokal kepada masyarakat.
Dengan menjadikan budaya lokal sebagai sumber inspirasi, diharapkan generasi muda dapat lebih mencintai identitas daerah sendiri. Di saat yang sama, mereka juga diajarkan untuk berpikir global, sehingga mampu bersaing di tingkat internasional.
Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan, surat edaran tentang tata kelola perpustakaan telah diterbitkan. Melalui instruksi gubernur terkait dokumentasi pemerintahan, diharapkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan menjadi lebih baik.
Sinergi dengan Tokoh Budaya dan Komunitas Literasi untuk Melestarikan Kearifan Lokal
Pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk tokoh budaya dan akademisi, menjadi salah satu fokus dalam pelestarian literasi. Pendekatan ini bertujuan membangun langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi budaya di daerah.
Dengan menghimpun komunitas literasi dalam berbagai kegiatan, sinergi antar komunitas diharapkan bisa terjalin. Kegiatan seperti kemah literasi dapat menjadi platform untuk berbagi ide dan pengalaman antara berbagai komunitas.
Kegiatan kolaboratif ini tidak hanya akan memperkuat jaringan, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan generasi yang mencintai dan menghargai sejarah serta kearifan daerah mereka.
Keberadaan komunitas literasi diharapkan dapat merangsang pemikiran kreatif dan inovatif di kalangan generasi muda. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan kita bisa bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk pertumbuhan literasi.
Dengan semua inisiatif ini, diharapkan literasi bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi melibatkan semua elemen masyarakat. Sinergi ini diharapkan akan membawa NTB menuju era baru di mana literasi menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.






















