www.tempoaktual.id – Kota Mataram, yang merupakan ibu kota provinsi, sedang dalam proses peningkatan mutu pendidikan dengan harapan mencapai standar yang lebih baik menjelang tahun 2025. Kegiatan bincang-bincang yang diadakan oleh Dewan Pendidikan Kota Mataram mencerminkan perhatian serta komitmen untuk memperbaiki kualitas pendidikan di daerah ini.
Dalam forum tersebut, sejumlah kepala bidang dari Dinas Pendidikan, para pengawas sekolah, dan kepala sekolah berkumpul untuk mendiskusikan capaian dan tantangan yang ada. Momen ini sangat penting sebagai evaluasi untuk mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil dalam meningkatkan pendidikan di Mataram.
Ketua Dewan Pendidikan Kota Mataram, Prof. Tajuddin, menekankan bahwa meskipun ada peningkatan, hasilnya belum memuaskan. Rapor pendidikan yang sebelumnya didominasi warna merah dan kuning kini mengalami pergeseran, walaupun tidak sepenuhnya ideal.
Analisis Peningkatan Mutu Pendidikan di Mataram
Dalam pertemuan ini, Prof. Tajuddin menjelaskan bagaimana mutu pendidikan di Mataram mengalami perkembangan. Ia menyatakan bahwa meski ada perbaikan, hasil tersebut belum memenuhi ekspektasi masyarakat, terlebih mengingat posisi Mataram sebagai pusat pendidikan di provinsi ini.
Pada diskusi tersebut, ditemukan fakta mencengangkan bahwa masih ada siswa SMP yang belum menguasai keterampilan membaca. Hal ini disebut sebagai “kesalahan berjamaah,” karena melibatkan semua elemen dalam ekosistem pendidikan, mulai dari perguruan tinggi hingga sekolah dasar.
Lebih lanjut, dia menyoroti bahwa masalah ini juga disebabkan oleh kurangnya kemampuan menulis pada mahasiswa calon guru. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada kekurangan dalam pengajaran dasar yang seharusnya sudah dikuasai oleh mahasiswa sebelum mereka menjadi pendidik.
Pentingnya Kebijakan dan Program Literasi di Sekolah
Untuk mendukung upaya perbaikan mutu pendidikan, Prof. Tajuddin menekankan perlunya Disdik Kota Mataram menyiapkan kebijakan yang menyeluruh. Semua sekolah harus memiliki desain kebijakan yang seragam agar dapat melaksanakan program literasi dengan baik.
Salah satu program yang diusulkan adalah membaca sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Selain itu, diwajibkan untuk khatam satu buku setiap bulan, yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca di kalangan siswa.
Program literasi ini tidak hanya bermanfaat secara akademis tetapi juga diharapkan dapat membantu menciptakan generasi yang lebih toleran. Misalnya, SMPN 4 Mataram menciptakan metode pengajaran yang mengintegrasikan budaya lokal dalam materi pembelajaran mereka.
Respon Disdik Kota Mataram terhadap Tantangan Pembelajaran
Yusuf, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, turut memberikan penjelasan mengenai penyebab masih adanya siswa yang belum dapat membaca. Ia menjelaskan bahwa selama pandemi Covid-19, terjadi perubahan besar dalam metode pembelajaran yang berdampak pada perkembangan keterampilan dasar siswa.
Transformasi dari pembelajaran luring ke daring mengakibatkan hilangnya proses pembelajaran yang seharusnya diikuti siswa. Konsekuensi dari hal tersebut adalah fenomena yang disebut “lose learning,” di mana anak-anak tidak mengalami kemajuan yang seharusnya.
Pada masa transisi ini, banyak siswa yang naik kelas tanpa menguasai keterampilan dasar membaca. Oleh karena itu, Disdik Mataram merespons dengan membuat kebijakan yang mendorong aktivitas literasi di sekolah-sekolah, termasuk surat edaran yang mengatur kegiatan membaca sebelum pelajaran dimulai.
Strategi Penguatan Pendidikan di Kota Mataram menuju 2025
Dengan berbagai langkah yang diambil, diharapkan mutu pendidikan Kota Mataram dapat meningkat drastis. Kebijakan literasi ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga melibatkan seluruh tenaga pengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
Melalui kegiatan membaca yang dilakukan setiap hari, para siswa diharapkan dapat membangun kebiasaan baca yang kuat. Hal ini bisa menjadi pondasi bagi mereka untuk menghadapi tantangan akademik di masa depan.
Prof. Tajuddin menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi semua elemen masyarakat juga harus berpartisipasi. Harapannya, dengan kolaborasi yang baik, Mataram dapat menjadi model pendidikan yang lebih baik bagi kabupaten-kabupaten lain di NTB.






















