www.tempoaktual.id – Kota Bima kembali menjadi sorotan setelah video wawancara yang viral mengenai kasus hilangnya Kifen, seorang pemuda berusia 18 tahun dari Desa Sangiang, Kecamatan Wera. Video tersebut memperlihatkan pernyataan ayah Kifen, Jamhur, dan menarik perhatian publik dengan jumlah penonton yang mencapai lebih dari 365 ribu kali.
Arus viralitas video ini mengundang berbagai reaksi dari netizen, dari empati hingga spekulasi. Banyak orang mulai bertanya-tanya tentang keberadaan Kifen dan kondisi terkini kasus tersebut.
Namun, di tengah riuhnya perhatian publik, Polres Bima Kota mengeluarkan klarifikasi penting terkait wawancara ini. Mereka menegaskan bahwa wawancara dilakukan tanpa izin resmi di ruang pengamanan Polres yang bukan merupakan area publik.
Klarifikasi dari Polisi Mengenai Prosedur Wawancara
Kasat Reskrim Polres Bima Kota, AKP Dwi Kurniawan Kusuma Putra, menegaskan perlunya mematuhi prosedur yang ada. Ia mengungkapkan bahwa pemanggilan media untuk wawancara tidak dilakukan dengan izin yang diperlukan.
Menurut Dwi, aktivitas tersebut berpotensi mengganggu proses penyelidikan yang saat itu masih berlangsung. Melakukan wawancara di ruang pengamanan dianggap melanggar tata tertib yang berlaku.
Ruang pengamanan Polres memang memiliki batasan akses yang ketat, hanya diperuntukkan bagi penyidik, penasihat hukum, dan keluarga yang memiliki izin khusus. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga integritas penyelidikan.
Dampak Negatif dari Viralitas Wawancara
Dampak dari video yang viral ini cukup signifikan bagi proses penyelidikan. AKP Dwi menekankan bahwa kebisingan yang ditimbulkan dapat mempengaruhi suasana publik serta proses hukum yang sedang berjalan.
Video tersebut tidak hanya memicu spekulasi, tetapi juga kegaduhan di media sosial. Masyarakat diingatkan untuk lebih bijak dalam menanggapi informasi yang beredar, terutama yang berkaitan dengan kasus ini.
Penting untuk diingat bahwa polisi masih dalam tahapan penyelidikan dan berusaha mengumpulkan fakta yang akurat. Viralisasi informasi dapat menghambat kerja mereka.
Pentingnya Menghormati Hak Privasi Keluarga
Dalam situasi sulit seperti ini, menjaga hak privasi keluarga korban menjadi hal yang sangat esensial. AKP Dwi menekankan bahwa tekanan emosional yang dialami keluarga harus diperhatikan dan dihormati oleh semua pihak.
Ia berharap agar media dan masyarakat bisa menahan diri untuk tidak membagikan informasi yang tidak terverifikasi. Etika jurnalistik harus dijunjung tinggi, terutama dalam kasus-kasus sensitif seperti hilangnya seseorang.
Keluarga Kifen berhak mendapatkan privasi dan perlindungan dari media agar tidak semakin tertekan oleh situasi yang ada.






















