www.tempoaktual.id – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat tengah menghadapi tantangan besar terkait perbaikan jalan strategis yang menghubungkan Lenangguar dan Lunyuk. Proyek ini baru mencapai sebesar 35 persen dari keseluruhan progres yang diharapkan, sementara waktu yang tersisa untuk penyelesaian proyek ini sangat terbatas, hanya satu bulan menuju akhir tahun 2025.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB, Sadimin, mengungkapkan bahwa kondisi geografis yang sulit menjadi salah satu faktor utama keterlambatan proyek ini. Ia berharap agar tidak ada keterlambatan yang berarti sehingga akses jalan tetap bisa terjaga dan penggunaan jalan dapat berlangsung dengan aman.
Berbagai kesulitan di lapangan, seperti penggalian yang terhambat di medan yang tidak rata, membuat perbaikan ini menjadi lebih rumit dari yang diperkirakan. Sadimin menambahkan, pergerakan tanah di sekitar area proyek menjadi sorotan utama yang mempengaruhi kelancaran pekerjaan tersebut.
Strategi Menghadapi Kendala Proyek Jalan di Nusa Tenggara Barat
Dari laporan yang ada, terdapat beberapa titik yang mengalami pergeseran karena masalah tanah yang terus bergerak. Dengan lebar sekitar 60 meter dan panjang 60 meter, kedalaman beberapa titik mencapai 10 hingga 15 meter, menjadikan proses pengeboran semakin sulit.
Setiap kali musim hujan tiba, longsor menjadi masalah yang berulang, menyebabkan jalan yang sudah dikerjakan harus kembali dibongkar. Sadimin menjelaskan bahwa pemulihan jalan tersebut memerlukan waktu dan usaha ekstra untuk mengembalikannya ke kondisi semula.
Di satu lokasi tertentu, tim yang menangani proyek ini menghadapi 48 titik yang harus diperbaiki, dan sudah ada 32 titik yang telah selesai dikerjakan. Namun, kontraktor terkendala untuk melanjutkan pekerjaan di 16 titik lainnya akibat kondisi tanah yang terus berubah.
Keberadaan Proyek Lain yang Mendorong Pembangunan Infrastruktur
Tidak hanya fokus pada jalan Lenangguar-Lunyuk, Dinas PUPR NTB juga melaksanakan sejumlah proyek infrastruktur lainnya. Di antaranya adalah rehabilitasi irigasi dan perbaikan jalan yang menghubungkan Tanjung Geres dan Pohgading serta Simpang Tano-Seteluk.
Proyek-proyek ini diharapkan akan selesai tepat waktu dan dapat dirayakan pada saat peringatan Ulang Tahun NTB ke-67 yang jatuh pada 17 Desember 2025. Sadimin optimis bahwa ketiga proyek irigasi yang dikerjakan dapat diresmikan bersamaan dengan acara tersebut.
Total anggaran untuk ketiga proyek irigasi tersebut mencapai Rp13,5 miliar, dan dibangun untuk mendukung ketahanan pangan, yang merupakan fokus utama pemerintah saat ini. Hal ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan aksesibilitas air untuk pertanian di wilayah tersebut.
Kemajuan Proyek dan Harapan untuk Penyelesaian Tepat Waktu
Untuk proyek jalan Tanjung Geres-Pohgading yang memiliki panjang 4 kilometer dan menelan anggaran sekitar Rp28 miliar, progres saat ini sudah mencapai 75 persen. Sedangkan proyek Simpang Tano-Seteluk dengan anggaran total Rp32 miliar telah mencapai 63 persen dalam pengerjaannya.
Dengan semangat yang tinggi, Sadimin berharap kedua proyek ini juga dapat diselesaikan sebelum batas waktu yang ditentukan pada 17 Desember. Seluruh upaya pemerintah daerah jelas terlihat dalam menghimpun sumber daya dan tenaga kerja untuk merealisasikan target tersebut.
Masih banyak tantangan yang perlu dihadapi untuk mencapai tujuan ini, namun keyakinan dan kerja keras tim di lapangan menjadi kunci dalam penyelesaian proyek strategis ini. Harapan masyarakat juga sangat tinggi, agar infrastruktur yang baik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan aksesibilitas di Nusa Tenggara Barat.






















