www.tempoaktual.id – Setelah lebih dari satu dekade mengalami penurunan dalam kualitas dan kuantitas bibit, petani di Desa Kaliuda, Sumba Timur, sekarang melangkah ke fase baru dalam budi daya rumput laut. Melalui kolaborasi yang erat antara berbagai pihak, mereka berhasil memanen enam ton bibit rumput laut unggul, menandai harapan baru bagi ekonomi pesisir.
Inisiatif ini dimulai pada awal 2025, saat Universitas Mataram bersama Konservasi Indonesia dan BUMDes Kaliuda mengembangkan kebun uji coba di kawasan Lendunga. Dengan membawa 80 kilogram bibit unggul dari Lombok, tim riset yang dipimpin oleh Dr. Eka S. Prasedya berupaya untuk memberikan solusi jangka panjang terhadap permasalahan yang dihadapi petani.
Dari bibit yang awalnya sedikit itu, perkembangan luar biasa terjadi dengan munculnya 1,8 ton bibit sehat yang berasal dari berbagai strain. Beberapa di antaranya adalah Kappaphycus striatus (Sacol), Kappaphycus striatus (Payaka), Cottoni Lokal, serta SP1 yang saat ini sedang dalam pengidentifikasian.
Peranan Kolaborasi dalam Memajukan Budi Daya Rumput Laut
Dr. Eka S. Prasedya menjelaskan bahwa pendampingan yang mereka lakukan mencakup lebih dari sekadar penyediaan bibit. Dengan pelatihan biosekuriti, mereka berusaha memperkuat sistem pembibitan yang berkelanjutan agar petani dapat mandiri dan secara aktif menjaga kualitas genetik rumput laut yang mereka budidayakan.
Kolaborasi ini juga menunjukkan pentingnya dukungan dari berbagai sektor, termasuk akademis dan pemuda lokal. Dukungan teknologi dan pembelajaran berbasis penelitian memberikan harapan untuk menciptakan praktik budi daya yang lebih baik di seluruh kawasan Sumba Timur.
Meningkatkan Kesadaran dan Kemandirian Masyarakat Pesisir
Keberhasilan program ini tidak hanya ditunjukkan oleh peningkatan hasil panen, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat. Menurut Fitri Hasibuan dari Konservasi Indonesia, program yang didukung oleh Global Fund for Coral Reefs tidak hanya berfokus pada hasil pertanian, tetapi juga meliputi tema perlindungan ekosistem terumbu karang.
Dengan menggandeng berbagai pihak, mereka mampu menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Kolaborasi lintas lembaga ini memastikan bahwa keberlanjutan menjadi fokus utama di dalam setiap langkah budi daya yang dilakukan.
Hal ini pun diapresiasi oleh Kepala Dinas Perikanan Sumba Timur, Markus Windi, yang menilai bahwa kerja sama ini telah menghasilkan dampak positif yang nyata. Sebuah strategi yang mendatangkan manfaat kedua belah pihak, baik dalam hal ekonomi maupun lingkungan.
Dampak Positif bagi Ekonomi Desa dan Masyarakat
Ketua BUMDes Manandang, Christiani Valentine Salean, menuturkan bahwa sebelumnya mereka kesulitan mengakses bibit berkualitas. Namun kini, setelah memanen enam ton bibit, seluruh desa dapat merasakan dampak positif dari upaya kolaboratif ini.
“Kami bahkan dapat menjual sebagian dari hasil panen,” ujarnya, menunjukkan langkah signifikan menuju kemandirian. Ini menjadi ancang-ancang bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka di masa depan.
Dengan program ini, budi daya rumput laut tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga sebagai usaha yang menjaga kelestarian sumber daya laut. Penyuluhan yang diterima membantu para petani mengadaptasi teknik yang lebih ramah lingkungan.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Sumba atau bahkan di kawasan lain di Indonesia. Dengan terus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat, langkah ini diharapkan bisa berlanjut dan berkembang lebih jauh.
Dengan pendekatan yang berfokus pada kolaborasi, pendampingan, dan pelatihan, petani di Desa Kaliuda telah memulai perjalanan baru, yang tidak hanya menjanjikan peningkatan hasil, tetapi juga melindungi lingkungan mereka. Harapan ini tentunya menjadi salah satu langkah penting dalam keberlanjutan ekonomi pesisir di Indonesia.






















